hi stats


Bokep Kencur - Aku masih saja belum mendapat pasangan atau kekasih padahal umurku sudah berkepala 3 , dan aku pun sudah siap untuk menikah, padahal aku sudha bekerja dan bisa dibilang mapan untuk mengurus sebuah rumah tangga, tapi aku juga belum kepikiran untuk menikah karena masih terbawa rasa petualang cinta, dan sejak umur 20an aku sudah melakukan hal tersebut.Agen Judi Sportbook Live Casino Indonesia Terbesar

Waktu itu aku masih kelas 3 SMU. Hari itu aku ada janji dengan Ropik, sahabatku di sekolah. Rencananya dia mau mengajakku jalan-jalan ke Mall A?a,?EsXA?a,?a”? sekedar menghilangkan kepenatan setelah seminggu penuh digojlok latihan sepak bola habis-habisan.

Sejam lebih aku menunggu di warung depan gang rumah pamanku (aku tinggal numpang di rumah paman, karena aku sekolah di kota yang jauh dari tempat tinggal orangtuaku yang di desa). Jalan ke Mall A?a,?EsXA?a,?a”? dari rumah Ropik melewati tempat tinggal pamanku itu, jadi janjinya aku disuruh menunggu di warung pinggir jalan seperti biasa.

Aku mulai gelisah, karena biasanya Ropik selalu tepat janji. Akhirnya aku menuju ke telepon umum yang ada di dekat situ, pengin nelpon ke rumah Ropik, memastikan dia sudah berangkat atau belum (waktu itu HP belum musim bro, paling juga pager yang sudah ada, tapi itupun kami tidak punya).

“Sialan.. telkom ini, barang rongsokan di pasang di sini!,” gerutuku karena telpon koin yang kumasukkan keluar terus dan keluar terus. Setelah uring-uringan sebentar, akhirnya kuputuskan untuk ke rumah Ropik. Keputusan ini sebenarnya agak konyol, karena itu berarti aku berbalik arah dan menjauh dari Mall A?a,?EsXA?a,?a”? tujuan kami, belum lagi kemungkinan bersimpang jalan dengan Ropik.

Tapi, kegelisahanku mengalahkan pertimbangan itu. Akhirnya, setelah titip pesan pada penjual di warung kalau-kalau Ropik datang, aku langsung menyetop angkot dan menuju ke rumah Ropik.

Sesampai di rumah Ropik, kulihat suasananya sepi. Padahal sore-sore begitu biasanya anggota keluarga Ropik (Papa, Mama dan adik-adik Ropik, serta kadang pembantunya) pada ngobrol di teras rumah atau main badminton di gang depan rumah. Setelah celingak-celinguk beberapa saat, kulihat pembantu di rumah Ropik keluar dari pintu samping.

“Bi.. Bibi.. kok sepi.. pada kemana yah?” tanyaku. Aku terbilang sering main ke rumah Ropik, begitu juga sebaliknya Ropik sering main ke rumah pamanku, tempatku tinggal. Jadi aku sudah kenal baik dengan semua penghuni rumah Ropik, termasuk pembantu dan sopir papanya.

“Eh, mas Didik.. pada pergi mas, pada ikut ndoro kakung (juragan laki-laki). Yang ada di rumah cuman ndoro putri (juragan wanita),” jawabnya dengan ramah.

“Oh.. jadi Ropik ikut pergi juga ya Bi. Ya sudah kalau begitu, lain waktu saja saya ke sini lagi,” jawabku sambil mau pergi.

“Lho, nggak mampir dulu mas Didik. Mbok ya minum-minum dulu, biar capeknya hilang.”

“Makasih Bi, sudah sore ini,” jawabku.

Baru aku mau beranjak pulang, pintu depan tiba-tiba terbuka. Ternyata Tante Kirana, mama Ropik yang membuka pintu.

“Bibi ini gimana sih, ada tamu kok nggak disuruh masuk?”, katanya sambil sedikit mendelik pada si pembantu.

“Udah ndoro, sudah saya suruh duduk dulu, tapi mas Didik nggak mau,” jawabnya.

“Eh, nak Didik. Kenapa di luaran aja. Ayo masuk dulu,” kata Tante Kirana lagi.

“Makasih tante. Lain waktu aja saya main lagi tante,” jawabku.

“Ah, kamu ini kayak sama orang lain saja. Ayo masuk sebentar lah, udah datang jauh-jauh kok ya balik lagi. Ayo masuk, biar dibikin minum sama bibi dulu,” kata Tante Kirana lagi sambil melambai ke arahku.KiosCasino Agen judi online teraman dan terpercaya.

Aku tidak bisa lagi menolak, takut membuat Tante Kirana tersinggung. Kemudian aku melangkah masuk dan duduk di teras, sementara Tante Kirana masih berdiri di depan pintu.

“Nak Didik, duduk di dalem saja. Tante lagi kurang enak badan, tante nanti nggak bisa nemenin kamu kalau duduk di luar.”

“Ya tante,” jawabku sambil masuk ke rumah dengan perasaan setengah sungkan.

“Ropik ikut Om pergi kemana sih tante?” tanyaku basa-basi setelah duduk di sofa di ruang tamu.

“Pada ke *kota X*, ke rumah kakek. Mendadak sih tadi pagi. Soalnya om-mu itu kan jarang sekali libur. Sekali boleh cuti, langsung mau nengok kakek.”

“Ehm.. tante nggak ikut?”

“Besuk pagi rencananya tante nyusul. Soalnya hari ini tadi tante nggak bisa ninggalin kantor, masih ada yang mesti diselesaiin,” jawab Tante Kirana. “Emangnya Ropik nggak ngasih tahu kamu kalau dia pergi?”

“Nggak tante,” jawabku sambil sedikit terheran-heran. Tidak biasanya Tante Kirana menyebutku dengan
“kamu”. Biasanya dia menyebutku dengan “nak Didik”.

“Kok bengong!” Tanya Tante Kirana membuatku kaget.

“Eh.. anu.. eh..,” aku tergugup-gugup.

“Ona-anu, ona-anu. Emang anunya siapa?” Tante Kirana meledek kegugupanku yang membuatku makin jengah. Untung Bibi segera datang membawa secangkir teh hangat, sehingga rasa jengahku tidak berkepanjangan.

“Mas Didik, silakan tehnya dicicipin, keburu dingin nggak enak,” kata bibi sambil menghidangkan teh di depanku.

“Makasih Bi,” jawabku pelan.

“Itu tehnya diminum ya, tante mau mandi dulu.. bau,” kata Tante Kirana sambil tersenyum. Setelah itu Tante Kirana dan pembantunya masuk ke ruang tengah. Sementara aku mulai membaca-baca koran yang ada di meja untuk.

Hampir setengah jam aku sendirian membaca koran di ruang tamu, sampai akhirnya Tante Kirana nampak keluar dari ruang tengah.

Dia memakai T-shirt warna putih dipadu dengan celana ketat di bawah lutut. Harus kuakui, meskipun umurnya sudah 40-an namun badannya masih bropik. Kulitnya putih bersih, dan wajahnya meskipun sudah mulai ada kerut di sana-sini, tapi masih jelas menampakkan sisa-sisa kecantikannya.

“Eh, ngapain kamu ngliatin tante kayak gitu. Heran ya liat nenek-nenek.”

“Mati aku!” kataku dalam hati. Ternyata Tante Kirana tahu sedang aku perhatikan. Aku hanya bisa menunduk malu, mungkin wajahku saat itu sudah seperti udang rebus.

“Heh, malah bengong lagi,” katanya lagi. Kali ini aku sempat melihat Tante Kirana tersenyum yang membuatku sedikit lega tahu kalau dia tidak marah.

“Maaf tante, nggak sengaja,” jawabku sekenanya.

“Mana ada nggak sengaja. Kalau sebentar itu nggak sengaja, lha ini lama gitu ngeliatnya,” kata Tante Kirana lagi. Meskipun masih merasa malu, namun aku agak tenang karena kata-kata Tante Kirana sama sekali tidak menunjukkan sedang marah.

“Kata Ropik, kamu mau pertandingan sepakbola di sekolah ya?” Tanya Tante Kirana.

“Eh, iya tante. Pertandingan antar SMU se-kota. Tapi masih dua minggu lagi kok tante, sekarang-sekarang ini baru tahap penggojlokan,” Aku sudah mulai tenang kembali.

“Pelajaran kamu terganggu nggak?”

“Ya sebenarnya lumayan menggangu tante, habisnya latihannya belakangan ini berat banget, soalnya sekolah sengaja mendatangkan pelatih sepakbola beneran.

Tapi, sekolah juga ngasih dispensasi kok tante. Jadi kalau capeknya nggak ketulungan, kami dikasih kesempatan untuk nggak ikut pelajaran. Kalau nggak begitu, nggak tahu lah tante. Soalnya kalau badan udah pegel-pegel, ikut pelajaranpun nggak konsen.”

“Kalau pegel-pegel kan tinggal dipijit saja,” kata Tante Kirana.

“Masalahnya siapa yang mau mijit tante?”

“Tante mau kok,” jawab Tante Kirana tiba-tiba.

“Ah, tante ini becanda aja,” kataku.

“Eh, ini beneran. Tante mau mijitin kalau memang kamu pegel-pegel. Kalau nggak percaya, sini tante pijit,” katanya lagi.

“Enggak ah tante. Ya, saya nggak berkirana tante. Nggak sopan,” jawabku sambil menunduk setelah melihat Tante Kirana nampak sungguh-sungguh dengan kata-katanya.

“Lho, kan tante sendiri yang nawarin, jadi nggak ada lagi kata nggak sopan. Ayo sini tante pijit,” katanya sambil memberi isyarat agar aku duduk di sofa di sebelahnya. Penyakit gugupku kambuh lagi. Aku hanya diam menunduk sambil mempermainkan jari-jariku.

“Ya udah, kalau kamu sungkan biar tante ke situ,” katanya sambil berjalan ke arahku. Sebentar kemudian sambil berdiri di samping sofa, Tante Kirana memijat kedua belah pundakku. Aku hanya terdiam, tidak tahu persis seperti apa perasaanku saat itu.

Setelah beberapa menit, Tante Kirana menghentikan pijitannya. Kemudian dia masuk ke ruang tengah sambil memberi isyarat padaku agar menunggu. Aku tidak tahu persis apa yang dilakukan Tante Kirana setelah itu. Yang aku tahu, aku sempat melihat bibi pembantu keluar rumah melalui pintu samping, yang tidak lama kemudian disusul Tante Kirana yang keluar lagi dari ruang tengah.

“Bibi tante suruh beli kue. Kue di rumah sudah habis,” katanya seolah menjawab pertanyaan yang tidak sempat kuucapkan. “Ayo sini tante lanjutin mijitnya. Pindah ke sini aja biar lebih enak,” kali itu aku hanya menurut saja pindah ke sofa panjang seperti yang disuruh Tante Kirana.

Kemudian aku disuruh duduk menyamping dan Tante Kirana duduk di belakangku sambil mulai memijit lagi.

“Gimana, enak nggak dipijit tante?” Tanya Tante Kirana sambil tangannya terus memijitku. Aku hanya mengangguk pelan.

“Biar lebih enak, kaosnya dibuka aja,” kata Tante Kirana kemudian. Aku diam saja. Bagaimana mungkin aku berkirana membuka kaosku, apalagi perasaanku saat itu sudah tidak karuan.

“Ya sudah. Kalau gitu, biar tante bantu bukain,” katanya sambil menaikkan bagian bawah kaosku. Seperti kena sihir aku menurut saja dan mengangkat kedua tanganku saat Tante Kirana membuka kaosku.

Setelah itu Tante Kirana kembali memijitku. Sekarang tidak lagi hanya pundakku, tapi mulai memijit punggung dan kadang pinggangku. Perasaanku kembali tidak karuan, bukan hanya pijitannya kini, tapi sepasang benda empuk sering menyentuh bahkan kadang menekan punggungku.

Meski seumur-umur aku belum pernah menyentuh payudara, tapi aku bisa tahu bahwa benda empuk yang menekan punggungku itu adalah sepasang payudara Tante Kirana.

Beberapa lama aku berada dalam situasi antara merasa nyaman, malu dan gugup sekaligus, sampai akhirnya aku merasakan ada benda halus menelusup bagian depan celanaku. Aku terbelalak begitu mengetahui yang menelusup itu adalah tangan Tante Kirana.

“Tante.. ” kataku lirih tanpa aku sendiri tahu maksud kataku itu. Tante Kirana seperti tidak mempedulikanku, dia malah sudah bergeser ke sampingku dan mulai membuka kancing serta retsluiting celanaku. Sementara itu aku hanya terdiam tanpa tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya aku mulai bisa melihat dan merasakan Tante Kirana mengelus penisku dari luar CD-ku.

Aku merasakan sensasi yang luar biasa. Sesuatu yang baru pertama kali itu aku rasakan. Belum lagi aku sadar sepenuhnya apa yang terjadi, aku mendapati penisku sudah menyembul keluar dan Tante Kirana sudah menggenggamnya sambil sesekali membelai-belainya. Setelah itu aku lebih sering memejamkan mata sambil sekali-kali melirik ke arah penisku yang sudah jadi mainan Tante Kirana.

Tak berapa lama kemudian aku merasakan kenikmatan yang jauh lebih mencengangkan. Kepala penisku seperti masuk ke satu lubang yang hangat. Ketika aku melirik lagi, kudapati kepala penisku sudah masuk ke mulut Tante Kirana, sementara tangannya naik turun mengocok batang penisku.

Aku hanya bisa terpejam sambil mendesis-desis keenakan. Beberapa menit kemudian aku merasakan seluruh tubuhku mulai mengejang. Aku merasakan Tante Kirana melepaskan penisku dari mulutnya, tapi mempercepat kocokan pada batang penisku.

“Sssshhhh.. creettt… creett… ” Sambil mendesis menikmati sensasi rasa yang luar biasa aku merasakan cairan hangat menyemprot sampai ke dadaku, cairan air mkirana ku sendiri.

“Ah, dasar anak muda, baru segitu aja udah keluar,” Tante Kirana berbisik di dekat telingaku. Aku hanya menatap kosong ke wajah Tante Kirana, yang aku tahu tangannya tidak berhenti mengelus-elus penisku. “Tapi ini juga kelebihan anak muda. Udah keluarpun, masih kenceng begini,” bisik Tante Kirana lagi.

Setelah itu aku lihat Tante Kirana melepas T-Shirtnya, kemudian berturut-turut, BH, celana dan CD-nya. Aku terus terbelalak melihat pemandangan seperti itu. Dan Tante Kirana seperti tidak peduli kemudian meluruskan posisi ku, kemudian dia mengangkang duduk di atasku. Selanjutnya aku merasakan penisku digenggam lagi, kali ini di arahkan ke selangkangan Tante Kirana.

“Sleppp…. Aaaaahhhhh… ” suara penisku menembus vagina Tante Kirana diiringi desahan panjangnya. Kemudian Tante Kirana bergerak turun naik dengan cepat sambil mendesah-desah. Mulutnya terkadang menciumi dada, leher dan bibirku.

Ada beberapa menit Tante Kirana bergerak naik turun, sampai akhirnya dia mempercepat gerakannya dan mulai menjerit-jerit kecil dengan liarnya. Akupun kembali merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tak lama kemudian…

“Aaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh…….. ,” Tante Kirana melenguh panjang, bersamaan dengan teriakanku yang kembali merasakan puncak yang kedua kali. Setelah itu Tante Kirana terkulai, merebahkan kepalanya di dadaku sambil memeluk pundakku.

“Terima kasih Dik…,” bisiknya lirih diteruskan kecupan ke bibirku.

Sejak kejadian itu, aku mengalami syok. Rasa takut dan bersalah mulai menghantui aku. Sulit membayangkan seandainya Ropik mengetahui kejadian itu. Perubahan besar mulai terjadi pada diriku, aku mulai sering menyendiri dan melamun.

Namun selain rasa takut dan bersalah, ada perasaan lain yang menghinggapi aku. Aku sering terbayang-bayang Tante Kirana dia telanjang bulat di depanku, terutama waktu malam hari, sehingga aku tiap malam susah tidur. Selain seperti ada dorongan keinginan untuk mengulangi lagi apa yang telah Tante Kirana lakukan padaku.

Perubahan pada diriku ternyata dirasakan juga oleh paman dan bibiku dan juga teman-temanku, termasuk Ropik. Tentu saja aku tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya. Situasi seperti itu berlangsung sampai seminggu lebih yang membuat kesehatanku mulai drop akibat tiap malam susah tidur, dan paginya tetap kupaksakan masuk sekolah.

Akibat dari itu pula, akhirnya aku memilih mundur dari tim sepakbola sekolahku, karena kondisiku tidak memungkinkan lagi untuk mengikuti latihan-latihan berat.

Kira-kira seminggu setelah kejadian itu, aku berjalan sendirian di trotoar sepulang sekolah. Aku menuju halte yang jaraknya sekitar 300 meter dari sekolahku. Sebenarnya persis di depan sekolahku juga ada halte untuk bus kota, namun aku memilih halte yang lebih sepi agar tidak perlu menunggu bus bareng teman-teman sekolahku.KiosCasino Agen judi online teraman dan terpercaya.

Saat asyik berjalan sambil menunduk, aku dikejutkan mobil yang tiba-tiba merapat dan berhenti agak di depanku. Lebih terkejut lagi saat tahu itu mobil itu mobil papanya Ropik. Setelah memperhatikan isi dalam mobil, jantungku berdesir. Tante Kirana yang mengendari mobil itu, dan sendirian.

“Dik, cepetan masuk, ntar keburu ketahuan yang lain,” panggil Tante Kirana sambil membuka pintu depan sebelah kiri. Sementara aku hanya berdiri tanpa bereaksi apa-apa.

“Cepetan sini!” kali ini suara Tante Kirana lebih keras dan wajahnya menyiratkan kecemasan.

“I.. Iya.. tante,” akhirnya aku menuruti panggilan Tante Kirana, dan bergegas masuk mobil.

“Nah, gitu. Keburu ketahuan temen-temenmu, repot.” kata Tante Kirana sambil langsung menjalankan mobilnya.

Di dalam mobil aku hanya diam saja, meskipun aku bisa sedikit melihat Tante Kirana beberapa kali menengok padaku.

“Tumben kamu nggak bareng Ropik,” Tanya Tante Kirana tiba-tiba.

“Enn.. Enggak tante. Saya lagi pengin sendirian saja. Tante nggak sekalian jemput Ropik?” aku sudah mulai menguasai diriku.

“Kan, emang Ropik nggak pernah dijemput,” jawab Tante Kirana.

“Eh, iya ya,” jawabku seperti orang bloon.

Setelah itu kami lebih banyak diam. Tante Kirana mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah sampai di sebuah komplek pertokoan Tante Kirana melambatkan mobilnya sambil melihat-lihat mungkin mencari tempat parkir yang kosong. Setelah memarkirkan mobilnya, yang sepertinya mencari tempat yang agak jauh dari pusat pertokoan, Tante Kirana mengajak aku turun.

Setelah turun, Tante Kirana langsung menyetop taksi yang kebetulan sedang melintas. Terlihat dia bercakap-cakap dengan sopir taksi sebentar, kemudian langsung memanggilku supaya ikut naik taksi. Setelah masuk taksi,

Tante Kirana memberi isyarat padaku yang terbengong-bengong supaya diam, kemudian dia menyandarkan kepalanya pada jok taksi dan memejamkan matanya, entah kecapaian atau apa. Kira-kira 20 menit kemudian taksi memasuki pelataran sebuah hotel di pinggiran kota.

“Dik, kamu masuk duluan, kamu langsung aja. Ada kamar nganggur yang habis dipakai tamu kantor tante. Nanti tante nyusul,” kata Tante Kirana memberikan kunci kamar hotel sambil setengah mendorongku agar keluar.

Kemudian aku masuk ke hotel, aku memilih langsung mencari petunjuk yang ada di hotel itu daripada tanya ke resepsionis. Dan memang tidak sulit untuk mencari kamar dengan nomor seperti yang tertera di kunci. Singkat cerita aku sudah masuk ke kamar, namun hanya duduk-duduk saja di situ.

Kira-kira 15 menit kemudian terdengar ketukan di pintu kamar, ternyata Tante Kirana. Dia langsung masuk dan duduk di pinggir ranjang.

“Ropik bilang kamu keluar dari tim sepakbola ya?!” tanyanya tanpa ba-bi-bu dengan nada agak tinggi.

“I.. iya tante,” jawabku pelan.

“Kamu juga nggak pernah lagi kumpul sama temen-temen kamu, nggak pernah main lagi sama Ropik,” Tante Kirana menyemprotku yang hanya bisa diam tertunduk.

“Kamu tahu, itu bahaya. Orang-orang dan keluargaku bisa tahu apa yang sudah terjadi.. ,” kata-kata Tante Kirana terputus dan terdengar mulai sedikit sesenggukan.

“Tapi.. saya nggak pernah ngasih tahu siapa-siapa,” kataku.

“Memang kamu belum ngasih tahu, tapi kalau ditanyain terus-terusan bisa-bisa kamu cerita juga,” katanya lagi sambil sesenggukan. “Apa yang terjadi dengan keluarga tante jika semuanya tahu!”

“Tante memang salah, tante yang membuat kamu jadi begitu,” kata Tante Kirana, kali ini agak lirih sambil menahan tangisnya. “Tapi kalau kamu merasakan seperti yang tante rasakan..” terputus lagi.

“Merasakan apa tante?”

Akhirnya Tante Kirana cerita panjang lebar tentang rumah tangganya. Tentang suaminya yang sibuk mengejar karir, sehingga hampir tiap hari pulang malam, dan jarang libur. Tentang kehidupan seksualnya sebagai akibat dari kesibukan suaminya, serta beratnya menahan hasrat biologisnya akibat dari semua itu.

“Kalau kamu mau marah, marahlah. Entah kenapa, tante nggak sanggup lagi menahan dorongan birahi waktu kamu ke rumah minggu kemarin.

Terserah kamu mau menganggap tante kayak apa, yang penting kamu sudah tahu masalah tante. Sekarang kalau mau pulang, pulanglah, tante yang ngongkosin taksinya,” kata Tante Kirana lirih sambil membuka tasnya, mungkin mau mengeluarkan dompet.

“Nggak.. nggak usah tante.. ” aku mencegah. “Saya belum mau pulang, saya nggak mau membiarkan tante dalam kesedihan.

” Entah pengaruh apa yang bisa membuatku seketika bisa bersikap gagah seperti itu. Aku hampiri Tante Kirana, aku elus-elus kepalanya. Hilang sudah perasaan sungkanku padanya. Tante Kirana kemudian memeluk pinggangku dan membenamkan kepalanya dalam pelukanku.

Setelah beberapa lama, aku duduk di samping Tante Kirana. Kuusap-usap dan sibakkan rambutnya. Kusap pipinya dari airmata yang masih mengalir.

Pelahan kucium keningnya. Kemudian, entah siapa yang mulai tiba-tiba bibir kami sudah saling bertemu. Ternyata, kalau tidak sedang merasa sungkan atau takut, aku cukup lancar juga mengikuti naluri kelelakianku.

Cukup lama kami berciuman bibir, dan makin lama makin liar. Aku mulai mengusap punggung Tante Kirana yang masih memakai baju lengkap, dan kadang turun untuk meremas pantatnya. Tante Kirana pun melakukan hal yang sama padaku.

Tante Kirana sepertinya kurang puas bercumbu dengan pakaian lengkap. Tangannya mulai membuka kancing baju seragam SMU-ku, kemudian dilepasnya berikut kaos dalam ku. Kemudian dia melepaskan pelukanku dan berdiri.

Pelan-pelan dia membuka pakain luarnya, sampai hanya memakai CD dan BH. Meskipun aku sudah melihat Tante Kirana telanjang, tapi pemandangan yang sekarang ada di depanku jauh membuat nafsuku bergejolak, meskipun masih tertutup CD dan BH. Aku langsung berdiri, kupeluk dan kudorong ke arah dinding, sampai kepala Tante Kirana membentur dinding, meski tidak begitu keras.

“Ah, pelan-pelan doonnng,” kata Tante Kirana manja diiringi desahannya desahannya.

Aku semakin liar saja. Kupagut lagi bibir Tante Kirana, sambil tanganku meremas-remas buah dadanya yang masih memakai BH. Tante Kirana tidak mau kalah, bahkan tangannya sudah mulai melepaskan melorotkan celana luar dan dalamku.

Kemudian, diteruskannya dengan menginjaknya agar bisa melorot sempurna. Aku bantu upaya Tante Kirana itu dengan mengangkat kakiku bergantian, sehingga akhirnya aku sudah telanjang bulat.

Setelah itu Tante Kirana membantuku membuka pengait BH-nya yang ada di belakang. Rupanya dia tahu aku kesulitan untuk membuka BH-nya. Sekarang aku leluasa meremas-remas kedua buah dada Tante Kirana yang cukup besar itu, sedang Tante Kirana mulai mengelus dan kadang mengocok penisku yang sudah sangat tegang.

Kemudian tante setengah menjambak Tante Kirana mendorong kepalaku di arahkan ke buah dadanya yang sebelah kiri. Kini puting susu itu sudah ada di dalam mulutku, kuisap-isap dan jilati mengikuti naluriku.

“Aaaaahh….. oooouhghhh… ” desahan Tante Kirana makin keras sambil tangannya tak berhenti mempermainkan penisku.

Beberapa kali aku isap puting susu Tante Kirana bergantian, mengikuti sebelah mana yang dia maui. Setelah puas buah dadanya aku mainkan, Tante Kirana mendorong tubuhku pelan ke belakang. Kemudian dia berputar, berjalan mundur sambil menarikku ke arah ranjang.

Sampai di pinggir ranjang, Tante Kirana sengaja menjatuhkan dirinya sehingga sekarang dia telentang dengan aku menindih di atasnya, sementara kakinya dan kakiku masih menginjak lantai. Setelah itu, dia berusaha melorotkan CD-nya, yang kemudian aku bantu sehingga Tante Kirana kini untuk kedua kalinya telanjang bulat di depanku.

Usai melepas CD-nya aku masih berdiri memelototi pemandangan di depanku. Tante Kirana yang telentang dengan nafas memburu dan mata agak sayu menatapku. Gundukan di selangkangannya yang ditumbuhi bulu tidak begitu lebat nampak benar menantang, seperti menyembul didukung oleh kakinya yang masih menjuntai ke lantai.

Bibir vaginanya nampak mengkilap terkena cairan dari dalamnya. (Waktu itu aku belum bisa menilai dan membanding-bandingkan buah dada, mana yang kencang, bropik dan sebagainya. Paling hanya besar-kecilnya saja yang bisa aku perhatikan).

“Sini sayaangg.. ,” panggil Tante Kirana yang melihat aku berdiri memandangi tiap jengkal tubuhnya. Aku menghampirinya, menindih dan mencoba memasukkan penisku ke lubang vaginanya. Tapi, Tante Kirana menahanku. Nampak dia menggeleng sambil memandangku. Kemudian tiba-tiba kepalaku didorong kebawah.

Terus didorong cukup kuat sampai mulutku persis berada di depan lubang vaginanya. Setelah itu Tante Kirana berusaha agar mulutku menempel ke vaginanya. Awalnya aku ikuti, tapi setelah mencium bau yang aneh dan sangat asing bagiku, aku agak melawan.

Mengetahui aku tidak mau mengikuti kemauannya, dia bangun. Ditariknya kedua tanganku agar aku naik ke ranjang, ditelentangkannya tubuhku. Sempat aku melihat bibirnya tersenyum, sebelum di mengangkang tepat di atas mulutku.

“Bleepp… ” aku agak gelagapan saat vagina Tante Kirana ditempel dan ditekankan di mulutku. Tante Kirana memberi isyarat agar aku tidak melawan, kemudian pelan-pelan vaginanya digesek-gesekkan ke mulutku, sambil mulutnya mendesis-desis tidak karuan.

Aku yang awalnya rada-rada jijik dengan cairan dari vagina Tante Kirana, sudah mulai familiar dan bisa menikmatinya. Bahkan, secara naluriah, kemudian ku keluarkan lidahku sehingga masuk ke lubang vagina Tante Kirana.

“Oooohhh… sssshhh… pinter kamu sayang… oh… ” gerakan Tante Kirana makin cepat sambil meracau. Tiba-tiba, dia memutar badannya. Kagetku hanya sejenak, berganti kenikmatan yang luar biasa setelah penisku masuk ke mulut Tante Kirana.

Aku merasakan kepala penisku dikulum dan dijilatinya, sambil tangannya mengocok batang penisku. Sementara itu, vaginanya masih menempel dimulutku, meskipun gesekannya sudah mulai berkurang. Sambil menikmati aku mengelus kedua pantat Tante Kirana yang persis berada di depan mataku.

Setelah puas dengan permainan seperti itu, Tante Kirana mulai berputar dan bergeser. Masih mengangkang, tapi tidak lagi di atas mulutku, kali ini tepat di atas ujung penisku yang tegak.

“Sleep.. blesss… ooooooooooooohhhhhh,” penisku menancap sempurna di dalam vagina Tante Kirana diikuti desahan panjangnya, yang malah lebih mirip dengan lolongan.

Tante Kirana bergerak naik turun sambil mulutnya meracau tidak karuan. Tidak seperti yang pertama waktu di rumah Tante Kirana, kali ini aku tidak pasif. Aku meremas kedua buah dada Tante Kirana yang semakin menambah tidak karuan racauannya.

Rupanya, aksi Tante Kirana itu tidak lama, karena kulihat tubuhnya mulai mengejang. Setengah menyentak dia luruskan kakinya dan menjatuhkan badannya ke badanku.

“Ooooooooohhh…. Aaaaaaaaahhh….. ” Tante Kirana ambruk, terkulai lemas setelah mencapai puncak.
Beberapa saat dia menikmati kepuasannya sambil terkulai di atasku, sampai kemudian dia berguling ke samping tanpa melepas vaginanya dari penisku, dan menarik tubuhku agar gantian menindihnya.

Sekaraang gantian aku mendorong keluar-masuk penisku dari posisi atas. Tante Kirana terus membelai rambut dan wajahku, tanpa berhenti tersenyum. Beberapa waktu kemudian aku mempercepat sodokanku, karena terasa ada bendungan yang mau pecah.

“Tanteeeeee……. Oooooohhh……. ” gantian aku yang melenguk panjang sambil membenamkan penisku dalam-dalam. Tante Kirana menarik tubuhku menempel ketat ke dadanya, saat aku mencapai puncak.

Setelah sama-sama mencapai puncak kenikmatan, aku dan Tante Kirana terus ngobrol sambil tetap berpelukan yang diselingi dengan ciuman. Waktu ngobrol itu pula Tante Kirana banyak memberi tahu tentang seks, terutama bagian-bagian sensitif wanita serta bagaimana meng-eksplor bagian-bagian sensitif itu.

Setelah jam 4 sore, Tante Kirana mengajak pulang. Aku sebenarnya belum mau pulang, aku mau bersetubuh sekali lagi. Tapi Tante Kirana berkeras menolak.

“Tante janji, kamu masih terus bisa menikmati tubuh tante ini. Tapi ingat, kamu harus kembali bersikap seperti biasa, terutama pada Ropik. Dan kamu harus kembali ke tim sepakbola. Janji?”

“He-em,” aku menganggukkan kepala.

“Ingat, kalau kamu tepat janji, tante juga tepat janji. Tapi kalau kamu ingkar janji, lupakan semuanya. Oke?” Aku sekali mengangguk.

Sebelum aku dan Tante Kirana memakai pakaian masing-masing, aku sempatkan mencium bibir Tante Kirana dan tak lupa bibir bawahnya. Setelah selesai berpakaian, Tante Kirana memberiku ongkos taksi dan menyuruhku pulang duluan.

Sejak itu perasaanku mulai ringan kembali, dan aku sudah normal kembali. Aku juga bergabung kembali ke tim sepakbola sekolahku, yang untungnya masih diterima. Dari sepakbola itulah yang kemudian memuluskan langkahku mencari kerja kelak.

Dan Tante Kirana menepati janjinya. Dia benar-benar telah menjadi pasangan kencanku, dan guru sex-ku sekaligus. Paling sedikit seminggu sekali kami melakukannya berpindah-pindah tempat, dari hotel satu ke hotel yang lain, bahkan kadang-kadang keluar kota. Tentu saja kami melakukannya memakai strategi yang matang dan hati-hati, agar tidak diketahui orang lain, terutama keluarga Tante Kirana.KiosCasino Agen judi online teraman dan terpercaya.

Sejak itu pula aku mengalami perubahan yang cukup drastis, terutama dalam pergaulanku dengan teman-teman cewek. Aku yang awalnya dikenal pemalu dan jarang bergaul dengan teman cewek, mulai dikenal sebagai play boy.

Sampai lulus SMU, beberapa cewek baik dari sekolahku maupun dari sekolah lain sempat aku pacari, dan beberapa di antaranya berhasil kuajak ke tempat tidur. (Lain waktu, kalau sempat saya ceritakan petualangan saya tersebut).

Begitulah kisah awalku dengan Tante Kirana, yang akhirnya merubah secara drastis perjalanan hidupku ke depannya. Sampai saat ini, aku masih berhubungan dengan Tante Kirana, meskipun paling-paling sebulan atau dua bulan sekali.

Meskipun dari segi daya tarik seksual Tante Kirana sudah jauh menurun, namun aku tidak mau melupakannya begitu saja. Apalagi, Tante Kirana tidak pernah berhubungan dengan pria lain, karena dianggapnya resikonya terlalu besar.

Begitulah, Tante Kirana yang terjepit antara hasrat seksual menggebu yang tak terpenuhi dengan status sosial yang harus selalu dijaga.

INIRAJATIPS - Sering Kalah Dalam Melakukan Taruhan Bola ? Atau anda ingin menang terus dalam judi casino ? RAJA TIPS adalah tempat yang tepat untuk anda belajar tips dan trik dalam perjudian. karena pengalaman yang dimiliki rajatips bukan hanya sekedar teori akan tetapi sudah dipraktekan bersama beberapa admin perjudian.
Tips&Trick segala jenis judi bisa anda dapatkan secara gratis langsung saja ya =>

Nikmatnya Ngentot Dengan Mama Temanku Tante Kirana


Bokep Kencur - Perkenalkan namaku adalah Rudi, umur 30 tahun, tubuhku kekar dan besar serta atletis dan juga hitam, maklum bekas kuli bangunan. Tetapi beberapa saat lalu temanku menawariku kerja di sebuah diskotik “A” sebagai sekuriti, diskotik “A” sangatlah terkenal dengan cewek-cewek cantik dan tajir di karenakan diskotik “A” tempatnya sangat bonafit dan high class jadi pengunjungnya juga ikut-ikut bonafit, harga minumannya pun aku ga sanggup untuk membelinya dengan gaji sebulanku.Agen Judi Sportbook Live Casino Indonesia Terbesar

Tapi aku sangat menikmati kerja di diskotik ini karena kerjanya nyantai, malam hari dan aku juga bisa jelalatan pada cewek-cewek. Banyak cewek-cewek cantik yang berkeliaran (rasanya ingin menyetubuhi semua cewek-cewek disini).

Diskotik ini terdapat 2 pintu masuk, pintu masuk atas dan pintu masuk bawah. Bila pengunjung lewat pintu atas berarti mobil mereka di vallet dan bila pengunjung lewat bawah, mobil mereka diparkir sendiri di basement.

Kita mulai ceritanya…berawal di hari Rabu (Ladies Free)

Banyak cewek-cewek pastinya, aku kebetulan bertugas di pintu bawah bersama temanku Rendy. Saat pintu dibuka aku dan Rendy harus memeriksa satu-satu tamu yang masuk, tidak kusia-siakan mataku untuk mencari mangsa, cewek-cewek yang datang sangat cantik-cantik dan berpakaian sexy dan wangi sehingga membangunkan adikku si “Ujang” (ga’ kuat lagi rasanya). Dan acara pun dimulai, tamu-tamu berangsur-angsur habis yang datang.

Kami berdua pun bisa bersantai sejenak.
Rendy pun membuka perbincangan.
“Sob…ghini nich enaknya ngapaian ya?”.
Rudi : “G tau nich, BT jg lama-lama”.

Rendy : “aaaa….Aku ada ide, gimana klu aku minta minuman ke Anto’?”.
(Anto’ adalah temanku yang menawari pekerjaan kepadaku sebagai sekuriti, dia bekerja sebagai bartender, terkadang aku mendapatkan minuman gratis dari dia).
Rudi : “Ide bagus tuh”.

Akhirnya Rendy naik ke atas untuk mengambil minuman.
Ga’ lama kemudian Rendy pun datang.
Rendy : “Nich sob… kita adakan pesta kecil-kecilan, kebetulan Anto’ ngasih kita camilan”.

Rudi : “Tuch anak baik banget”.
Akhirnya kita menikmati pesta kecil kita sambil ketawa-ketawa.
Rudi : “Kurang ceweknya nich”
Rendy : “Terus…”
Rudi : “Y ga’ terus-terus… kurang lengkap aja”

Kamipun tertawa terbahak-bahak.

Tiba-tiba telpon kantor berdering dan Rendy mengangkatnya, kulihat dia serius menjawab telponnya dan dari situ bisa kutebak pasti telpon dari bos.

“Aku ke atas dulu ya, dipanggil sama bos nich” ucap Rendy.
Rudi : “OK”

Lama juga Rendy pergi, ga’ heran sih…biasanya juga ghitu. Lama-lama pun aku merasa bosan di dalam kantor sekuriti, aku keluar dan celingukan kearah parkiran mobil, sepi dan gelap. Merinding juga rasanya kalau sendirian, akhirnya aku masuk lagi dan duduk sambil meminum bir ku tadi.

Tiba-tiba aku di kagetkan dengan suara lift tamu, keluarlah seorang cewek yang cantik berambut hitam panjang tergerai, kulit berwarna putih memakai baju putih sexy terusan hingga ke paha dan belahan dada yang rendah dan agak sempit di karenakan toket si perempuan sangatlah besar serta pantat dan celana dalam yang tercetak.

Dapat kulihat kalau daleman wanita itu berwarna hitam karena baju putihnya sangatlah sedikit menerawang, potur tubuhnya proporsional kaya’ model kelas atas. Jalannya agak sempoyongan, kelihatannya habis dugem nich cewek dan sedikit mabuk dan aku pun berinisiatif untuk membantunya.

“Malam mba’, bisa saya bantu?” tanyaku dengan sopan.
“Biar saya bantu” tambahku lagi, akupun menolongnya berjalan (wangi banget tubuhnya,seger rasanya)

Akupun menuntunnya karena sedang mabuk dan bertanya lagi.

“Mobilnya dmn?”

Dia hanya menunjukkan jari telunjuk ke suatu arah dan aku pun bertanya kembali.

“Bisa pinjam kunci mobilnya?”

Dia pun mencari dan memberikannya kepadaku (maksudku daripada jalan ga’ jelas kan mending menyalakan remote mobilnya), dan akupun melihat lampu mobilnya. Ditengah jalan akupun sedikit kemasukkan setan (ini disebabkan aku dari tadi dapat melihat toketnya).

Dan akhirnya akupun mengubah arah menuju gudang penyimpanan barang yang sudah ga’ pernah di pakai lagi, aku membuka pintunya… terdapat sebuah matras besar, sofa besar, meja dll. Barang-barang disini sangat masih bisa dipakai hanya karena bentuknya sudah kurang up to date makanya diskotik ini membuangnya dan menggantinya dengan yang model baru.

Aku menggiring cewek ini yang lagi mabuk menuju sofa, setelah dia duduk ku pandangi sekali lagi…(cantik banget, sexy, putih mulus lagi,makin ga’ kuat nich si “Ujang”), aku menggeledah isi tasnya, ada hp, dompet dan alat-alat kecantikan.

Akupun membuka isi dompetnya, terdapat banyak uang 100 rb an di dalamnya, kartu ATM dll, akupun melihat KTP-nya, tinggal di daerah elite memang…pantes tajir, kunci mobilnya aja kunci mobil Eropa dan akhirnya aku mengetahui namanya adalah Devi. Setelah itu kumasukkan semua barang-barangnya kembali. Aku kembali ke kantor sekuriti untuk mengambil minuman dan kembali ke gudang lagi.

Aku duduk di sebelah cewek mabuk itu dan menyodorkan minuman ke dia, awalnya dia si ga’ mau tapi terus ku paksa akhirnya dia terpaksa meminumnya, sambil dia minum langsung dari botol, ku coba untuk mencium lehernya dari samping aku duduk… lehernya wangi banget, wanginya tuch dapat merangsang gairah cowok, sambil ku cium-cium lehernya aku berusaha untuk mulai meraba-raba toketnya.

Ternyata lebih besar dari perkiraanku, tanganku sampai ga’ cukup untuk menampung toketnya…aku raba-raba dan kuremas-remas hingga Devi yg lagi mabuk meringis kesakitan, akupun mencoba mencari puting toketnya, yang bikin ga’ nahan nich belahan baju bagian dadanya yang rendah sehingga toketnya rasanya mau menyembul keluar…kucium-cium belahannya dan ku jilat-jilat (empuk rasanya).

Akupun mempunyai ide, kuambil botol bir dan menuangnya kebelahan dadanya hingga basah semua toketnya dan kujilat-jilat lagi. Kucium kembali lehernya dan aku mulai meraba-raba daerah memeknya, kuraba-raba dan kugesek-gesekan memakai jari tengah, sedikit kutekan kedalam sehingga Devi yg lagi mabuk bergerak ga’ karuan, akhirnya aku ga’ kuat lagi…aku membuka celana dan celana dalamku si “Ujang” sudah berdiri tegak.

Akupun menindihi tubuh Devi yg lagi mabuk dan melebarkan kedua kakinya, aku mencium kembali leher dan mulutnya dan ku gesek-gesekan si “Ujang” ke celana dalamnya (baru celana dalamnya aja sudah cenut-cenut apalagi klu nanti sudah ke dalamnya), kamipun akhirnya perang lidah dan ga’ ketinggalan akupun meremas-remas toketnya…Devi yg lagi mabuk pun akhirnya malah bergerak tambah ga’ karuan, aku merasakan daerah celana dalamnya sudah basah, kelihatannya nich cewek sudah horny.KiosCasino Agen judi online teraman dan terpercaya.

Akupun berdiri dari sofa dan memegang kepala Devi, aku memajukan si “Ujang” untuk dikulumnya…Devi sempat ga’ mau dan lagi-lagi aku memaksanya, penisku berukuran sangat besar (bisa dikatakan di atas ukuran normal orang Asia), Devi pun mencoba untuk memasukkan penisku kedalam mulutnya, hanya masuk bagian kepalanya saja, mulut Devi terlalu mungil, kucoba memaju mundurkan kepalanya (enak sekali rasanya) tidak lupa bagian buahnya penisku.

Tanganku pun tidak tinggal diam, tangan kiriku tetap memegangi kepala Devi dan tangan kananku mencoba menerobos kedalam belahan bajunya, halus dan besar toketnya…kuremas-remas kuat-kuat hingga dia kesakitan lagi, aku coba mencari putingnya…kuputar-putar sambil kutarik-tarik.

30 menitpun berlalu di posisi mengulum, akhirnya kutarik penisku. Aku akhirnya membuka baju Devi hingga hanya tersisa BH dan celana dalam berwarna hitam, kulihat perutnya yang putih mulus dan rata. Aku pun memindahkan Devi ke matras, dia berbaring diatasnya…

Aku membuka BH-nya (toketnya memang benar-benar besar sekali), kuremas-remas kembali (memang gemas sekali melihatnya), akupun berada di atas perut Devi dan mendudukinya, aku menaruh penisku diantara toketnya sambil kutarik kepalanya kedepan dan aku menyuruh menjilati ujung penisku, tangan kanan ku mencoba meraba-raba belakang ke celana dalamnya.

Devi pun mengeluarkan suara-suara aneh dan bergerak ga’ karuan kembali. Setelah puas aku berganti posisi ke posisi 69, kumasukkan penisku kembali ke mulutnya dan aku membuka celana dalamnya dan mulai menjilati memeknya serta menyedotnya (harum banget memeknya orang tajir), aku mencoba menggelitiki memeknya dan itu berhasil membuat memeknya banjir kembali.

Sudah ga’ tahan lagi nich…

Aku pun mulai menyerang memeknya menggunakan penis ku, perlahan kumasukkan…terasa susah banget, memeknya kecil dan masih seret banget walau sudah ga’ perawan. Baru kumasukkan sedikit Devi sudah menjerit “Aaaaaaaaargggggggggggggh…sakit”.

Akupun tidak menghiraukan dan tetap berusaha dan akhirnya barangku masuk semua kedalam liang kenikmatannya dengan susah payah dan agak sedikit lama, aku pun memulai memompanya perlahan dan meraih kedua toketnya dan kuremas-remas, aku mendekatkan mukaku kelehernya dan menciumi serta menciumi bibirnya, aku berpindah ke toket…menjilat-jilati putingnya yang berwarna pink dan menggigitnya serta menariknya “Aaaaaaaaawwwww…” jerit Devi.

Aku pun mencepatkan tempo pompaanku, Devi pun mengimbanginya (dasar pertamanya ga’ mau tapi keenakkan juga), pompaan yang cepat membuat toketnya bergoyang-goyang kemana-mana membuat tambah gemas saja, akupun meremas-remas kedua toketnya. Tiba-tiba aku merasakan cairan hangat, ternyata Devi sudah mencapai puncak, “Koq sudah keluar?” tanyaku…akupun mempercepat pompaanku dan menyebabkan Devi tambah berteriak ga’ karuan.

Bosen dengan Man on Top akupun berpindah posisi sekarang Woman on Top, toket Devi terlihat besar bergelantungan dan bergoyang-goyang saat aku memompanya dengan cepat, aku pun merasa gemas lagi dan aku manarik Devi kebawah sehingga mukaku sekarang berada diantara kedua toket Devi, kuciumi,kujilati, kuremas, kupilin-pilin putingnya…

Toketnya jadi bulan-bulananku (tambah besar nich toket nantinya), dan aku merasakan cairan kembali setelah 20 menit berlalu setelah Devi ejakulasi pertamanya tadi, “Koq sudah keluar lagi,sayank?” tanyaku…Devi pun tidak berekspresi, raut mukanya hanya diam menikmati pertempuran kita.

Kurubah lagi posisi, sekarang Devi ku gendong, aku menopang kedua pahanya dari bawah dan Devi memelukku…enak nich posisi ini, Devi pun tambah menjerit “aaah… aaah… aaah…sakit… aaah…”, ini di karenakan penisku terasa sekali menyodok memeknya…posisi ini berlangsung 15 menit dan aku merasakan aku sudah akan keluar juga, kutaruh Devi diatas meja, kupercepat pompaanku dan tidak lupa untuk diam tanganku meremas-remas toketnya dan akhirnya aku pun sampai puncak,

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaarghhhh…” aku dan Devi pun berteriak bersama, cairanku dan cairannya menyembur liang kenikmatannya sangat banyak sekali dan aku pun mecium bibirnya dan kedua toketnya (enak sekali pertempuran ini, hingga membuatku sangat lemas), aku menggendong Devi kembali ke matras dan menyuruhnya untuk menjilati sisa spermaku yang ada di penisku hingga habis.

Tidak lupa aku mencatat nomer HP-nya dan memfoto tubuhnya yang sedang bugil bersamaku memakai foto dari HP ku dan HP-nya Devi, dengan tujuan mungkin suatu saat aku bisa memakai tubuhnya lagi dan kami pun tertidur bersama, berpelukkan dalam keadaan bugil hingga pagi.

Tak terasa pagi pun berlalu, aku sudah bangun mendahului Devi karena aku ada apel pagi sebelum aku pulang kerumah dan Devi masih di ruangan gudang, ku kunci agar Devi tidak bisa keluar. Setelah apel pagi bubar aku dikagetkan dengan suara Rendy.

“Oi kmn aja sob kemarin, aku cari-cari koq ga’ ada?” tanya Rendy.
“Ga’ kemana-mana…keliling-keliling sekitar sini saja ” jawabku lemas gara-gara pertempuran kemarin.

Kita pun berpisah, kulihat Rendy sudah pergi pulang mengendarai motornya dan aku kembali ke gudang. Aku masuk dan melihat Devi belum bangun, aku pun memakaikan baju-bajunya kembali dan menggendongnya ke sofa…tiba-tiba dia terbangun dan berteriak “sapa km?”

Akupun menjawab dengan enteng “Cowok kamu”
Devi pun kebingungan “Tempat apa ini? Kotor banget”, “Mau apa kamu?”…”Jangan-jangan kamu mau memperkosa aku?”

Akupun memotong pertanyaannya yang super panjang itu “Ga usah di omongin juga kita semalam sudah jadi layaknya suami istri, kamu menikmati permainanku dan aku menikmati tubuhmu”

Devi pun kaget “huh…apa kamu bilang? Ihhh jijik amat dech sama kamu…klu ngomong tuch di atur!!!” (Devi pun agak mulai marah).

“Kalau ga’ percaya ya lihat aja foto-foto di HP mu” celetukku.

Devi pun mencari Hpnya, belum lihat dari album fotonya dia pun kaget, foto wallpaper Hpnya ku ganti foto kita berdua lagi bugil dan dia pun sibuk mencari foto-foto di album Hpnya dan dia mulai menangis.

“Sudah ga’ usah nangis, aku ga’ akan bilang siapa-siapa lagian kamu juga sudah ga’ perawan…jadi apa bedanya” aku pun berbicara seenaknya serasa sudah menang.

Devi pun berdiri dan menuju pintu keluar dan akupun mencegatnya.

“Mau kemana?” tanyaku.
“Pulang!!!” bentak Devi.
“Aku yang nyetir kamu nanti di sebelahku melayani aku lagi” akupun tertawa didepannya.

“Huh…mau apa lagi?” Devipun bingung.
“Sudah turuti aja kemauanku atau foto-fotomu yang semalam mau ku sebarin ke orang-orang” ancamku.

Akhirnya Devi menurut kepadaku karena ancaman itu, aku menyetir dan Devi duduk disebelahku, diperjalanan pulang aku dipuaskan kembali oleh Devi, aku menyuruhnya mengulum penisku kembali dan tidak lupa aku meremas-remas toketnya yang menggemaskan, cukup lama mengulumnya hingga akhirnya aku keluarin didalam mulutnya.KiosCasino Agen judi online teraman dan terpercaya.

Pertama Devi sempat berontak saat cairan penisku menyembur ke mulutnya tapi aku menahan kepalanya setelah selesai aku melihat Devi sempat memuntahkan cairannya di mobilnya, bisa kulihat dia sangat jijik melihatnya. Akhirnya aku sampai di terminal karena aku harus naik bemo menuju kos-kosanku, aku parkirkan mobil di tempat sepi dan aku pamitan sambil menciumi Devi.

“Hati-hati ya sayank kalau pulang,terima kasih atas kenikmatannya semalam,kapan-kapan lagi ya” akupun tersenyum ke Devi.

Devi pun pergi dengan cepatnya dan aku hanya bisa tersenyum puas karena bisa ngewe wanita montok karena dia telah mabuk.

INIRAJATIPS - Sering Kalah Dalam Melakukan Taruhan Bola ? Atau anda ingin menang terus dalam judi casino ? RAJA TIPS adalah tempat yang tepat untuk anda belajar tips dan trik dalam perjudian. karena pengalaman yang dimiliki rajatips bukan hanya sekedar teori akan tetapi sudah dipraktekan bersama beberapa admin perjudian.
Tips&Trick segala jenis judi bisa anda dapatkan secara gratis langsung saja ya =>

Tersenyum Puas Karena Bisa Ngentot Wanita Montok Yang Sedang Mabuk


Bokep Kencur - Aku rasakan ternyata sudah dua minggu aku tinggal dirumah sendiri, istriku Tanti mendapat tugas dari kantornya untuk mengikuti pelatihan di luar kota selama 3 minggu, dimana rasa rinduku sangat kangen sekali, biasanya kalau pagi sudah menyiapkan makanan, dan malam hari kalau tidur serasa ada yang ganjil biasanya istriku ada disampingku.Agen Judi Sportbook Live Casino Indonesia Terbesar

Oya perkenalkan namaku Farel kami sudah menikah selama 1 kami belum dikaruniai anak , aku teringat peristiwa yang aku alami dengan ibu mertuaku. Ibu mertuaku memang bukan ibu kandung istriku, karena ibu kandung Tanti telah meninggal dunia.

Ayah mertuaku kemudian kimpoi lagi dengan ibu mertuaku yang sekarang ini dan kebetulan tidak mempunyai anak. Ibu mertuaku ini umurnya sekitar 40 tahun, wajahnya ayu, dan tubuhnya benar-benar sintal dan padat sesuai dengan wanita idamanku.

Buah dadanya besar sesuai dengan pinggulnya. Demikian juga pantatnya juga bahenol banget. Aku sering membayangkan ibu mertuaku itu kalau sedang telentang pasti vaginanya membusung ke atas terganjal pantatnya yang besar itu.

Hemm, sungguh menggairahkan. Peristiwa itu terjadi waktu malam dua hari sebelum hari perkawainanku dengan Tanti. Waktu itu aku duduk berdua di kamar keluarga sambil membicarakan persiapan perkimpoianku.

Mendadak lampu mati. Dalam kegelapan itu, ibu mertuaku (waktu itu masih calon) berdiri, saya pikir akan mencari lilin, tetapi justru ibu mertuaku memeluk dan menciumi pipi dan bibirku dengan lembut dan mesra.

Aku kaget dan melongo karena aku tidak mengira sama sekali diciumi oleh calon ibu mertuaku yang cantik itu. Hari-hari berikutnya aku bersikap seperti biasa, demikian juga ibu mertuaku. Pada saat-saat aku duduk berdua dengan dia, aku sering memberanikan diri memandang ibu mertuaku lama-lama, dan dia biasanya tersenyum manis dan berkata,

Apaa..?, sudah-sudah, ibu jadi malu. Terus terang saja aku sebenarnya merindukan untuk dapat bermesraan dengan ibu mertuaku itu. Aku kadang-kadang sagat merasa bersalah dengan Tanti istriku, dan juga ayahku mertua yang baik hati.

Kadang-kadang aku demikian kurang ajar membayangkan ibu mertuaku disetubuhi ayah mertuaku, aku bayangkan kemaluan ayah mertuaku keluar masuk vagina ibu mertuaku, Ooh alangkah! Tetapi aku selalu menaruh hormat kepada ayah dan ibu mertuaku.

Ibu mertuaku juga sayang sama kami, walaupun Tanti adalah anak tirinya. Pagi-pagi hari berikutnya, aku ditelepon ibu mertuaku, minta agar sore harinya aku dapat mengantarkan ibu menengok famili yang sedang berada di rumah sakit, karena ayah mertuaku sedang pergi ke kota lain untuk urusan bisnis.

Aku sih setuju saja. Sore harinya kami jadi pergi ke rumah sakit, dan pulang sudah sehabis maghrib. Seperti biasa aku selalu bersikap sopan dan hormat pada ibu mertuaku. Dalam perjalan pulang itu, aku memberanikan diri bertanya, Bu, ngapain sih dulu ibu kok cium Farel?. Aah, kamu ini kok masih diingat-ingat juga siih, jawab ibuku sambil memandangku.

Jelas dong buu, Kan asyiik, kataku menggoda. Naah, tambah kurang ajar thoo, Ingat Tanti lho Rell, Nanti kedengaran ayahmu juga bisa geger lho Rell. Tapii, sebenarnya kenapa siih bu, Farel jadi penasaran lho.

Aah, ini anak kok nggak mau diem siih, Tapi eeh, anu, Rell, sebenarnya waktu itu, waktu kita jagongan itu, ibu lihat tampangmu itu kok ganteng banget. Hidungmu, bibirmu, matamu yang agak kurang ajar itu kok membuat ibu jadi gemes banget deeh sama kamu.

Makanya waktu lampu mati itu, entah setan dari mana, ibu jadi pengin banget menciummu dan merangkulmu. Ibu sebenarnya jadi malu sekali. Ibu macam apa kau ini, masa lihat menantunya sendiri kok blingsatan.

Mungkin, setannya ya Farel ini Bu, Saat ini setannya itu juga deg-degan kalau lihat ibu mertuanya. Ibu boleh percaya boleh tidak, kadang-kadang kalau Farel lagi sama Tanti, malah bayangin Ibu lho. Bener-bener nih.

Sumpah deh. Kalau Ibu pernah bayangin Farel nggak kalau lagi sama Bapak, aku semakin berani. aah nggak tahu ah, udaah, udaah, nanti kalau keterusan kan nggak baik. Hati-hati setirnya. Nanti kalau nabrak-nabrak dikiranya nyetir sambil pacaran ama ibu mertuanya.

Pasti ibu yang disalahin orang, Dikiranya yang tua niih yang ngebet, katanya. Padahal dua-duanya ngebet lo Bu. Buu, maafin Farel deeh. Farel jadi pengiin banget sama ibu lho, Gimana niih, punya Farel sakit kejepit celana nihh, aku makin berani.

Aduuh Reel, jangan gitu dong. Ibu jadi susah nih. Tapi terus terang aja Reel.., Ibu jadi kayak orang jatuh cinta sama kamu.., Kalau udah begini, udah naik begini, ibu jadi pengin ngeloni kamu Rell, Rell kita cepat pulang saja yaa, Nanti diterusin dirumah,

Kita pulang ke rumahmu saja sekarang, Toh lagi kosong khan, Tapi Rell menggir sebentar Rell, ibu pengen cium kamu di sini, kata ibu dengan suara bergetar. ooh aku jadi berdebar-debar sekali. Mungkin terpengaruh juga karena aku sudah satu minggu tidak bersetubuh dengan istriku. Aku jadi nafsu banget.

Aku minggir di tempat yang agak gelap. Sebenarnya kaca mobilku juga sudah gelap, sehingga tidak takut ketahuan orang. Aku dan ibu mertuaku berangkulan, berciuman dengan lembut penuh kerinduan.

Benar-benar, selama ini kami saling merindukan. eehhm, Reel ibu kangen banget Reel, bisik ibu mertuaku. Farel juga buu, bisikku. Reel, udah dulu Rell, eehmm udah dulu, napas kami memburu. Ayo jalan lagi, Hati-hati yaa, kata ibu mertuaku.

Buu penisku kejepit niih, Sakit, kataku. iich anak nakal, Pahaku dicubitnya. Okey, buka dulu ritsluitingnya, katanya. Cepat-cepat aku buka celanaku, aku turuni celana dalamku. Woo, langsung berdiri tegang banget.

Tangan kiri ibu, aku tuntun untuk memegang penisku. Aduuh Reel. Gede banget pelirmu, Biar ibu pegangin, Ayo jalan. Hati-hati setirnya. Aku masukkan persneling satu, dan mobil melaju pulang. Penisku dipegangi ibu mertuaku, jempolnya mengelus-elus kepala penisku dengan lembut. Aduuh, gelii nikmat sekali.

Mobil berjalan tenang, kami berdiam diri, tetapi tangan ibu terus memijat dan mengelus-elus penisku dengan lembut. Sampai di rumahku, aku turun membuka pintu, dan langsung masuk garasi. Garasi aku tutup kembali.

Kami bergandengan tangan masuk ke ruang tamu. Kami duduk di sofa dan berpandangan dengan penuh kerinduan. Suasana begitu hening dan romantis, kami berpelukan lagi, berciuman lagi, makin menggelora.

Kami tumpahkan kerinduan kami. Aku ciumi ibu mertuaku dengan penuh nafsu. Aku rogoh buah dadanya yang selalu aku bayangkan, aduuh benar-benar besar dan lembut. Buu, Farel kangen banget buu,

Farel kangen banget. Aduuh Reel, ibu juga, Peluklah ibu Rell, peluklah ibu nafasnya semakin memburu. Matanya terpejam, aku ciumi matanya, pipinya, aku lumat bibirnya, dan lidahku aku masukkan ke mulutnya.

Ibu agak kaget dan membuka matanya. Kemudian dengan serta-merta lidahku disedotnya dengan penuh nafsu. Eehhmm.., Rell, ibu belum pernah ciuman seperti ini, Lagi Rell masukkan lidahmu ke mulut ibu Ibu mendorongku pelan, memandangku dengan mesra.

Dirangkulnya lagi diriku dan berbisik, Rell, bawalah Ibu ke kamar, Enakan di kamar, jangan disini. Dengan berangkulan kami masuk ke kamar tengah yang kosong. Aku merasa tidak enak di tempat tidur kami.

Aku merasa tidak enak dengan Tanti apabila kami memakai tempat tidur di kamar kami. Bu kita pakai kamar tengah saja yaa. Okey, Rell. Aku juga nggak enak pakai kamar tidurmu. Lebih bebas di kamar ini, kata ibu mertuaku penuh pengertian.

Aku remas pantatnya yang bahenol. iich.., dasar anak nakal, ibu mertuaku merengut manja. Kami duduk di tempat tidur, sambil beciuman aku buka pakaian ibu mertuaku. Aku sungguh terpesona dengan kulit ibuku yang putih bersih dan mulus dengan buah dadanya yang besar menggantung indah. Ibu aku rebahkan di tempat tidur.KiosCasino Agen judi online teraman dan terpercaya.

Celana dalamnya aku pelorotkan dan aku pelorotkan dari kakinya yang indah. Sekali lagi aku kagum melihat vagina ibu mertuaku yang tebal dengan bulunya yang tebal keriting. Seperti aku membayangkan selama ini, vagina ibu mertuaku benar menonjol ke atas terganjal pantatnya yang besar.

Aku tidak tahan lagi memandang keindahan ibu mertuaku telentang di depanku. Aku buka pakaianku dan penisku sudah benar-benar tegak sempurna. Ibu mertuaku memandangku dengan tanpa berkedip. Kami saling merindukan kebersamaan ini.

Aku berbaring miring di samping ibu mertuaku. Aku ciumi, kuraba, kuelus semuanya, dari bibirnya sampai pahanya yang mulus. Aku remas lembut buah dadanya, kuelus perutnya, vaginanya, klitorisnya aku main-mainkan.

Liangnya vaginanya sudah basah. Jariku aku basahi dengan cairan vagina ibu mertuaku, dan aku usapkan lembut di clitorisnya. Ibu menggelinjang keenakan dan mendesis-desis. Sementara peliku dipegang ibu dan dielus-elusnya.

Kerinduan kami selama ini sudah mendesak untuk ditumpahkan dan dituntaskan malam ini. Ibu menggeliat-geliat, meremas-remas kepalaku dan rambutku, mengelus punggungku, pantatku, dan akhirnya memegang penisku yang sudah siap sedia masuk ke liang vagina ibu mertuaku.

Buu, aku kaangen banget buu, Farel kanget banget, Farel anak nakal buu.., bisikku. Reel, ibu juga. sshh, masukin Reel, masukin sekarang, Ibu sudah pengiin banget Reel, Reelm, bisik ibuku tersengal-sengal.

Aku naik ke atas ibu mertuaku bertelakn pada siku dan lututku. Tangan kananku mengelus wajahnya, pipinya, hidungnya dan bibir ibu mertuaku. Kami berpandangan. Berpandangan sangat mesra. Penis ku dituntunnya masuk ke liang vaginanya yang sudah basah.

Ditempelkannya dan digesek-gesekan di bibir vaginanya, di clitorisnya. Tangan kirinya memegang pantatku, menekan turun sedikit dan melepaskan tekanannya memberi komando penisku. Kaki ibu mertuaku dikangkangnya lebar-lebar, dan aku sudah tidak sabar lagi untuk masuk ke vagina ibu mertuaku.

Kepala penisku mulai masuk, makin dalam, makin dalam dan akhirnya masuk semuanya sampai ke pangkalnya. Aku mulai turun naik dengan teratur, keluar masuk, keluar masuk dalam vagina yang basah dan licin.

Aduuh enaak, enaak sekali. Masukkan separo saja Rell. Keluar-masukkan kepalanya yang besar ini, Aduuh garis kepalanya enaak sekali. Nafsu kami semakin menggelora. Aku semakin cepat, semakin memompa penisku ke vagina ibu mertuaku.

Buu, Farel masuk semua, masuk semua buu Iyaa Reel, enaak banget. Pelirmu ngganjel banget. Gede banget rasane. Ibu marem banget kami mendesis-desis, menggeliat-geliat, melenguh penuh kenikmatan.

Sementara itu kakinya yang tadi mengangkang sekarang dirapatkan. Aduuh, vaginanya tebal banget. Aku paling tidak tahan lagi kalau sudah begini. Aku semakin ngotot menyetubuhi ibu mertuaku, mencoblos vagina ibu mertuaku yang licin, yang tebal, yang sempit (karena sudah kontraksi mau puncak).

Bunyinya kecepak-kecepok membuat aku semakin bernafsu. Aduuh, aku sudah tidak tahan lagi. Buu Farel mau keluaar buu, Aduuh buu.., enaak bangeet. ssh, hiiya Reel, keluariin Reel, keluarin. Ibu juga mau muncaak, mau muncaak, Reelm, Rellm, Teruss Reelm, Kami berpagutan kuat-kuat.a

Napas kami terhenti. Penisku aku tekan kuat-kuat ke dalam vagina ibu mertuaku. Pangkal penisku berdenyut-denyut. menyemprotlah sudah spermaku ke vagina ibu mertuaku. Kami bersama-sama menikmati puncak persetubuhan kami.

Kerinduan, ketegangan kami tumpah sudah. Rasanya lemas sekali. Napas yang tadi hampir terputus semakin menurun. Aku angkat badanku. Akan aku cabut penisku yang sudah menancap dari dalam liang vaginanya, tetapi ditahan ibu mertuaku.

Biar di dalam dulu Reel, Ayo miring, kamu berat sekali. Kamu nekad saja, masa orang ditindih sekuatnya, katanya sambil memencet hidungku. Kami miring, berhadapan, Ibu mertuaku memencet hidungku lagi, Dasar anak kurang ajar, Berani sama ibunya.., Masa ibunya dinaikin, Tapi Reel, ibu nikmat banget, marem banget.

Ibu belum pernah merasakan seperti ini. Buu, Farel juga buu. Mungkin karena curian ini ya buu, bukan miliknya, Punya bapaknya kok dimakan. Ibu juga, punya anakya kok ya dimakan, diminum, kataku menggodanya.

Huush, dasar anak nakal.., Ayo dilepas Reel.., Aduuh berantakan niih Spermamu pada tumpah di sprei, Keringatmu juga basahi tetek ibu niih. Buu, malam ini ibu nggak usah pulang. Aku pengin dikelonin ibu malam ini.

Aku pengin diteteki sampai pagi, kataku. Ooh jangan cah bagus, kalau dituruti Ibu juga penginnya begitu. Tapi tidak boleh begitu. Kalau ketahuan orang bisa geger deeh, jawab ibuku. Tapi buu, Farel rasanya emoh pisah sama ibu.

Hiyya, ibu tahu, tapi kita harus pakai otak dong. Toh, ibu tidak akan kabur.., justru kalau kita tidak hati-hati, semuanya akan bubar deh. Kami saling berpegangan tangan, berpandangan dengan mesra, berciuman lagi penuh kelembutan.

Tiada kata-kata yang keluar, tidak dapat diwujudkan dalam kata-kata. Kami saling mengasihi, antara ibu dan anak, antara seorang pria dan seorang wanita, kami tulus mengasihi satu sama lain. Malam itu kami mandi bersama, saling menyabuni, menggosok, meraba dan membelai.

Penisku dicuci oleh ibu mertuaku, sampai tegak lagi. Sudaah, sudaah, jangan nekad saja. Ayo nanti keburu malam. Malam itu sungguh sangat berkesan dalam hidupku. Hari-hari selanjutnya berjalan normal seperti biasanya.

Kami saling menjaga diri. Kami menumpahkan kerinduan kami hanya apabila benar-benar aman. Tetapi kami banyak kesempatan untuk sekedar berciuman dan membelai. Kadang-kadang dengan berpandangan mata saja kami sudah menyalurkan kerinduan kami. Kami semakin sabar, semakain dewasa dalam menjaga hubungan cinta-kasih kami.

INIRAJATIPS - Sering Kalah Dalam Melakukan Taruhan Bola ? Atau anda ingin menang terus dalam judi casino ? RAJA TIPS adalah tempat yang tepat untuk anda belajar tips dan trik dalam perjudian. karena pengalaman yang dimiliki rajatips bukan hanya sekedar teori akan tetapi sudah dipraktekan bersama beberapa admin perjudian.
Tips&Trick segala jenis judi bisa anda dapatkan secara gratis langsung saja ya =>

Nikmatnya Ngentot Dengan Mertuaku Yang Putih Mulus


Pada suatu liburan sekolah yang panjang, kami dari sebuah SLTA mengadakan pendakian gunung di Jawa Timur. Rombongan terdiri dari 5 laki-laki dan 5 wanita. Diantara rombongan itu satu guru wanita ( guru biologi) dan satu guru pria ( guru olah raga ). Acara liburan ini sebenarnya amat tidak didukung oleh cuaca. Soalnya, acara kami itu diadakan pada awal musim hujan. Tapi kami tidak sedikitpun gentar menghadapi ancaman cuaca itu.

Ada yang sedikit mengganjal hati saya, yakni Ibu Guru Anisa ( saya memanggilnya Anisa ) orangnya terkenal galak dan judes itu dan anti cowok ! denger-denger dia itu lesbi. Ada yang bilang dia patah hati dari pacarnya dan kini sok anti cowok. Bu Anis umurnya belum 30 tahun, sarjana, cantik, tinggi, kulit kuning langsat, full press body. Sedangkan teman – teman cewek lainnya terdiri dari cewek-cewek bawel tapi cantik-cantik dan periang, cowoknya, terus terang saja, semuanya bandit asmara ! termasuk pak Martin guru olah raga kami itu.Agen Judi Sportbook Live Casino Indonesia Terbesar

Perjalanan menuju puncak gunung, mulai dari kumpul di sekolah hingga tiba di kaki gunung di pos penjagaan I kami lalui dengan riang gembira dan mulus-mulus saja. Seperti biasanya rombongan berangkat menuju ke sasaran melalui jalan setapak. Sampai tengah hari, kami mulai memasuki kawasan yang berhutan lebat dengan satwa liarnya, yang sebagian besar terdiri dari monyet-monyet liar dan galak. Menjelang sore, setelah rombongan istirahat sebentar untuk makan dan minum, kami berangkat lagi.

Kata pak Martin sebentar lagi sampai ke tujuan. Saking lelahnya, rombongan mulai berkelompok dua-dua. Kebetulan aku berjalan paling belakang menemani si bawel Anisa dan disuruh membawa bawaannya lagi, berat juga sih, sebel pula! Sebentar-sebentar minta istirahat, bahkan sampai 10 menit, lima belas menit, dan dia benar-benar kecapean dan betisnya yang putih itu mulai membengkak.

Kami berangkat lagi, tapi celaka, rombongan di depan tidak nampak lagi, nah lo ?! Kami kebingungan sekali, bahkan berteriak memanggil-manggil mereka yang berjalan duluan. Tak ada sahutan sedikitpun, yang terdengar hanya raungan monyet-monyet liar, suara burung, bahkan sesekali auman harimau. Anisa sangat ketakutan dengan auman harimau itu. Akhirnya kami terus berjalan menuruti naluri saja. Rasa-rasanya jalan yang kami lalui itu benar, soalnya hanya ada satu jalan setapak yang biasa dilalui orang.

Sial bagi kami, kabut dengan tiba-tiba turun, udara dingin dan lembab, hari mulai gelap, hujan turun rintik-rintik. Anisa minta istirahat dan berteduh di sebuah pohon sangat besar. Hingga hari gelap kami tersasar dan belum bertemu dengan rombongan di depan. Akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di sebuah tepian batu cadas yang sedikit seperti goa.

Hujan semakin lebat dan kabut tebal sekali, udara menyengat ketulang sumsum dinginnya. Bajuku basah kuyup, demikian juga baju Anisa. Dia menggigil kedinginan. Sekejap saja hari menjadi gelap gulita, dengan tiupan angin kencang yang dingin. Kami tersesat di tengah hutan lebat.

Tanpa sadar Anisa saking kedinginan dia memeluk aku. “Maaf” katanya. Aku diam saja, bahkan dia minta aku memeluknya erat-erat agar hangat tubuhnya. Pelukan kami semakin erat, seiring dengan kencangnya deras hujan yang dingin. Jika aku tak salah, hampir tiga jam lamanya hujan turun, dan hampir tiga jam kami berpelukan menahan dingin.

Setelah hujan reda, kami membuka ransel masing-masing. Tujuan utamanya adalah mencari pakaian tebal, sebab jaket kami sudah basah kuyup. Seluruh pakaian bawaan Anisa basah kuyup, aku hanya punya satu jaket parasut di ransel. Anisa minta aku meminjamkan jaketku. Aku setuju. Tapi apa yag terjadi ? wow…Anisa dalam suasana dingin itu membuka seluruh pakaiannya guna diganti dengan yang agak kering. Mulai dari jaket, T. Shirt nya, BH nya, wah aku melihat seluruh tubuh Anisa. Dia cuek saja, payudaranya nampak samar-samar dalam gelap itu. Tiba-tiba dia memelukku lagi.

“Dingin banget” katanya. “Terang dingin , habis kamu bugil begini” jawabku.
“Habis bagaimana? basah semua, tolong pakein aku jeketmu dong ?” pinta Anisa.

Aku memakaikan jaket parasut itu ketubuh Anisa. Tanganku bersentuhan dengan payudaranya, dan aku berguman

” Maaf Nisa ?”
“Enggak apa-apa ?!”: sahutnya.

Hatiku jadi enggak karuan, udara yang aku rasakan dingin mendadak jadi hangat, entah apa penyebabnya. Anisa merangkulku, “Dingin” katanya, aku peluk saja dia erat-erat. ” Hangat bu ?” tanyaku ” iya, hangat sekali, yang kenceng dong meluknya ” pintanya. Otomatis aku peluk erat-erat dan semakin erat.
Aneh bin ajaib, Anisa tampak sudah berkurang merasakan kedinginan malam itu, seperti aku juga. Dia meraba bibirku, aku reflex mencium bibir Anisa. Lalu aku menghindar. “Kenapa?” tanya Anisa

” Maaf Nisa ? ” Jawabku.
” Tidak apa-apa Rangga, kita dalam suasana seperti ini saling membutuhkan, dengan begini kita saling bernafsu, dengan nafsu itu membangkitkan panas dalam darah kita, dan bisa mengurangi rasa dingin yang menyengat.

Kembali kami berpelukan, berciuman, hingga tanpa sadar aku memegang payudaranya Anisa yang montok itu, dia diam saja, bahkan seperti meningkat nafsu birahinya. Tangannya secara reflek merogoh celanaku kedalam hingga masuk dan memegang penisku. Kami masih berciuman, tangan Anisa melakukan gerakan seperti mengocok-ngocok ‘Mr. Penny’ku. Tanganku mulai merogoh ‘Ms. Veggy’nya Anisa, astaga ! dia rupanya sudah melepas celana dalamnya sedari …
tadi.

Karena remang-remang aku sampai tak melihatnya. ‘Ms. Veggy’nya hangat sekali bagian dalamnya, bulunya lebat.
Anisa sepontan melepas seluruh pakaiannya, dan meminta aku melepas pula . Aku tanpa basa basi lagi langsung bugil. Kami bergumul diatas semak-semak, kami melakukan hubungan badan ditengah gelap gulita itu. Kami saling ganti posisi, Anisa meminta aku dibawah, dia diatas. Astaga, goyangnya!! Pengalaman banget dia ? kan belum kawin ?

” Kamu kuat ya?” bisiknya mesra.
” Lumayan sayang ?!” sahutku setengah berbisik.
” Biasa main dimana ?” tanyanya
“Ada apa sayang?” tanyaku kembali.
” Akh enggak” jawabnya sambil melepas ‘Ms. Veggy’nya dari ‘Mr. Penny’ku, dan dengan cekatan dia mengisap dan menjilati ‘Mr. Penny’ku tanpa rasa jijik sedikitpun.

Anisa meminta agar aku mengisap payudaranya, lalu menekan kepalaku dan menuntunnya ke arah ‘Ms. Veggy’nya. Aku jilati ‘Ms. Veggy’ itu tanpa rasa jijik pula. Tiba-tiba saja dia minta senggama lagi, lagi dan lagi, hingga aku ejakulasi.

Aku sempat bertanya, “Bagaimana jika kamu hamil ?”

” Don’t worry !” katanya.

Dan setelah dia memebersihkan ‘Ms. Veggy’nya dari spermaku, dia merangkul aku lagi. Malam semakin larut, hujan sudah reda, bintang-bintang di langit mulai bersinar. Pada jam 12 tengah malam, bulan nampak bersinar terang benderang. Paras Anisa tampak anggun dan cantik sekali. Kami ngobrol ngalor-ngidul, soal kondom, soal sekolah, soal nasib guru, dsb. Setelah ngobrol sekian jam, tepat pukul 3 malam, Anisa minta bersetubuh denganku lagi, katanya nikmat sekali ‘Mr. Penny’ku. Aku semakin bingung, dari mana dia tahu macam-macam rasa ‘Mr. Penny’, dia kan belum nikah ? tidak punya pacar ? kata orang dia lesbi.

Aku menuruti permintaan Anisa. Dia menggagahi aku, lalu meminta aku melakukan pemanasan sex (foreplay). Mainan Anisa bukan main hebatnya, segala gaya dia lakukan. Kami tak peduli lagi dengan dinginnya malam, gatalnya semak-semak. Kami bergumul dan bergumul lagi. Anisa meraih tanganku dan menempelkan ke payudaranya. Dia minta agar aku meremas-remas payudaranya, lalu memainkan lubang ‘Ms. Veggy’nya dengan jariku, menjilati sekujur bagian dagu. Tak kalah pula dia mengocok-ngocok ‘Mr. Penny’ku yang sudah sangat tegang itu, lalu dijilatinya, dan dimasukkannya kelubang vaginanya, dan kami saling goyang menggoyang dan hingga kami saling mencapai klimaks kenikmatan, dan terkulai lemas.

Anisa minta agar aku tak usah lagi menyusul kelompok yang terpisah. Esoknya kami memutuskan untuk berkemah sendiri dan mencari lokasi yang tak akan mungkin dijangkau mereka. Kami mendapatkan tempat ditepi jurang terjal dan ada goa kecilnya, serta ada sungai yang bening, tapi rimbun dan nyaman. Romantis sekali tempat kami itu. Aku dan Anisa layaknya seperti Tarzan dan pacarnya di tengah hutan. Sebab seluruh baju yang kami bawa basah kuyup oleh hujan.

Anisa hanya memakai selembar selayer yang dililitkan diseputar perut untuk menutupi kemaluannya. Aku telanjang bulat, karena baju kami sedang kami jemur ditepi sungai. Anisa dengan busana yang sangat minim itu membuat aku terangsang terus, demikian pula dia. Dalam hari-hari yang kami lalui kami hanya makan mi instant dan makanan kaleng.

Tepat sudah tiga hari kami ada ditempat terpencil itu. Hari terakhir, sepanjang hari kami hanya ngobrol dan bermesraan saja. Kami memutuskan esok pagi kami harus pulang. Di hari terakhir itu, kesmpatan kami pakai semaksimal mungkin. Di hari yang cerah itu, Anisa minta aku mandi bersama di sungai yang rimbun tertutup pohon-pohon besar. Kami mandi berendam, berpelukan, lalu bersenggama lagi. Anisa menuntun ‘Mr. Penny’ku masuk ke ‘Ms. Veggy’nya. Dan di menggoyangkan pinggulnya agar aku merasa nikmat. Aku demikian pula, semakin menekan ‘Mr. Penny’ku masuk kedalam ‘Ms. Veggy’nya.

Di atas batu yang ceper nan besar, Anisa membaringkan diri dengan posisi menantang, dia menguakkan selangkangngannya, ‘Ms. Veggy’nya terbuka lebar, disuruhnya aku menjilati bibir ‘Ms. Veggy’nya hingga klitoris bagian dalam yang ngjendol itu. Dia merasakan nikmat yang luar biasa, lalu disuruhnya aku memasukkan jari tengahku ke dalam lubang ‘Ms. Veggy’nya, dan menekannya dalam-dalam. Mata Anisa merem melek kenikmatan. Tak lama kemudian dia minta aku yang berbaring, ‘Mr. Penny’ku di elus-elus, diciumi, dijilati, lalu diisapnya dengan memainkan lidahnya, Anisa minta agar aku jangan ejakulasi dulu,

“Tahan ya ?” pintanya. ” Jangan dikeluarin lho ?!” pintanya lagi.

Lalu dia menghisap ‘Mr. Penny’ku dalam-dalam. Setelah dia enggak tahan, lalu dia naik diatasku dan memasukkan ‘Mr. Penny’ku di ‘Ms. Veggy’nya, wah, goyangnya hebat sekali, akhirnya dia yang kalah duluan. Anisa mencubiti aku, menjambak rambutku, rupanya dia ” keluar”, dan menjerit kenikmatan, lalu aku menyusul yang “keluar” dan oh,,,,oh…oh….muncratlah air maniku dilubang ‘Ms. Veggy’ Anisa.

“Jahat kamu ?!” kata Anisa seraya menatapku manja dan memukuli aku pelan dan mesra. Aku tersenyum saja. ” Jahat kamu Rangga, aku kalah terus sama kamu ” Ujarnya lagi. Kami sama-sama terkulai lemas diatas batu itu.

Esoknya kami sudah berangkat dari tempat yang tak akan terlupakan itu. Kami memadu janji, bahwa suatu saat nanti kami akan kembali ke tempat itu. Kami pulang dengan mengambil jalan ke desa terdekat dan pergi ke kota terdekat agar tidak bertemu dengan rombongan yang terpisah itu. Dari kota kecil itu kami pulang ke kota kami dengan menyewa Taxi, sepanjang jalan kami berpelukan terus di dalam Taxi. Tak sedikitpun waktu yang kami sia-siakan. Anisa …
menciumi pipiku, bibirku, lalu membisikkan kata

” Aku suka kamu ” Aku juga membalasnya dengan kalimat mesra yang tak kalah indahnya. Dalam dua jam perjalanan itu, tangan dan jari-jari Anisa tak henti-hentinya merogoh celana dalamku, dan memegangi ‘Mr. Penny’ku. Dia tahu aku ejakulasi di dalam celana, bahkan Anisa tetap mengocok-ngocoknya. Aku terus memeluk dia, pak Supir tak ku ijinkan menoleh kami kebelakang, dia setuju saja. Sudah tiga kali aku ” keluar” karena tangan Anisa selalu memainkan ‘Mr. Penny’ku sepanjang perjalanan di Taxi itu.

” Aku lemas sayang ?!” bisikku mesra
” Biarin !” Bisiknya mesra sekali. ” Aku suka kok !” Bisiknya lagi.

Tidak mau ketinggalan aku merogoh celana olah raga yang dipakai Anisa. Astaga, dia tidak pakai celana dalam. Ketika jari-jari tanganku menyolok ‘Ms. Veggy’nya, dia tersenyum, bulunya ku tarik-tarik, dia meringis, dan apa yang terjadi ? astaga lagi, Anisa sudah ‘keluar’ banyak, ‘Ms. Veggy’nya basah oleh semacam lendir, rupanya nafsunya tinggi sekali, becek banget. Tangan kami sama-sama basah oleh cairan kemaluan.KiosCasino Agen judi online teraman dan terpercaya.

Ketika sampai di rumah Anisa, aku disuruhnya langsung pulang, enggak enak sama tetangga katanya. Dia menyodorkan uang dua lembar lima puluh ribuan, aku menolaknya, biar aku saja yang membayar Taxi itu. Lalu aku pulang.Hari-hari berikutnya di sekolah, hubunganku dengan Anisa guru biologiku, nampak wajar-wajar saja dari luar. Tapi ada satu temanku yang curiga, demikian para guru. Hari-hari selanjutnya selalu bertemu ditempat-tempat khusus seperti hotel diluar kota, di pantai, bahkan pernah dalam suatu liburan kami ke Bali selama 12 hari.

Ketika aku sudah menyelesaikan studiku di SLTA, Anisa minta agar aku tak melupakan kenangan yang pernah kami ukir. Aku diajaknya ke sebuah Hotel disebuah kota, yah seperti perpisahan. Karena aku harus melanjutkan kuliah di Australia, menyusul kakakku. Alangkah sedihnya Anisa malam itu, dia nampak cantik, lembut dan mesra. Tak rela rasanya aku kehilangan Anisa. Kujelaskan semuanya, walau kita beda usia yang cukup mencolok, tapi aku mau menikah dengannya.

Anisa memberikan cincin bermata berlian yang dipakainya kepada aku. Aku memberikan kalung emas bermata zamrud kepada Anisa. Cincin Anisa hanya mampu melingkar di kelingkingku, kalungku langsung dipakainya, setelah dikecupinya. Anisa berencana berhenti menjadi guru, “sakit rasanya” ujarnya kalau terus menjadi guru, karena kehilangan aku. Anisa akan melanjutkan S2 nya di USA, karena keluarganya ada disana. Setelah itu kami berpisah hingga sekian tahun, tanpa kontak lagi.

Pada suatu saat, ada surat undangan pernikahan datang ke Apartemenku, datangnya dari Dra. Anisa Maharani, MSC. Rupanya benar dia menyelesaikan S2 nya.Aku terbang ke Jakarta, karena resepsi itu diadakan di Jakarta disebuah hotel bintang lima. Aku datang bersama kakakku Rina dan Papa. Di pesta itu, ketika aku datang, Anisa tak tahan menahan emosinya, dia menghampiriku ditengah kerumunan orang banya itu dan memelukku erat-erat, lalu menangis sejadi-jadinya.

“Aku rindu kamu Rangga kekasihku, aku sayang kamu, sekian tahun aku kehilangan kamu, andai saja laki-laki disampingku dipelaminan itu adalah kamu, alangkah bahagianya aku ” Kata Anisa lirih dan pelan sambil memelukku.

Kamu jadi perhatian para hadirin, Rina dan Papa saling tatap kebingungan. Ku usap airmata tulus Anisa. Kujelaskan aku sudah selesai S1 dan akan melanjutkan S2 di USA, dan aku berjanji akan membangun laboratorium yang kuberi nama Laboratorium “Anisa”. Dia setuju dan masih menenteskan air mata.

Setelah aku diperkenalkan dengan suaminya, aku minta pamit untuk pulang, akupun tak tahan dengan suasana yang mengharukan ini. Setelah lima tahun tak ada khabar lagi dari dia, aku sudah menikah dan punya anak wanita yang kuberi nama Anisa Maharani, persis nama Anisa. Ku kabari Anisa dan dia datang kerumahku di Bandung, dia juga membawa putranya yang diberi nama Rangga, cuma Rangga berbeda usia tiga tahun dengan Anisa putriku. Aku masih merasakan getaran-getaran aneh di hatiku, tatapan Anisa masih menantang dan panas, senyumnya masih menggoda. Kami sepakat untuk menjodohkan anak kami kelak, jika Tuhan mengijinkannya

INIRAJATIPS - Sering Kalah Dalam Melakukan Taruhan Bola ? Atau anda ingin menang terus dalam judi casino ? RAJA TIPS adalah tempat yang tepat untuk anda belajar tips dan trik dalam perjudian. karena pengalaman yang dimiliki rajatips bukan hanya sekedar teori akan tetapi sudah dipraktekan bersama beberapa admin perjudian.
Tips&Trick segala jenis judi bisa anda dapatkan secara gratis langsung saja ya =>

Enaknya Ngemut Memek Anisa Disaat Kami Sedang Liburan


Bokep Kencur - Sеkаrаng аku udаh luluѕ dаri SMA, ѕеbаgаi аnаk lеlаki раling tuа аku bеrрikir untuk ѕеgеrа mеnсаri реkеrjааn. Sауаngnуа ѕеtеlаh bеbеrара bulаn luluѕ SMA, аku bеlum kunjung jugа mеnеmukаn реkеrjааn уаng сосоk bаgiku. Hinggа аkhirnуа аkuрun ikut kеrjа dеngаn ѕаudаrаku, diа ѕеоrаng ѕuрir bis luar kota.Agen Judi Sportbook Live Casino Indonesia Terbesar

Sеbеnаrnуа аku ngаk ѕukа реkеrjааn ini, kаrеnа tidаk рunуа реngаlаmаn уаng lеbih untukku, tеtарi аku hаruѕ mеnсоbаnуа dеmi mеnсаri реngаlаmаn. Kаlаu mаѕаlаh hubungаn аѕmаrа, аku ѕudаh реrnаh mеnjаjаl wаnitа-wаnitа уаng di ѕеkitаr SMA ku, kаrеnа bukаnnуа ѕоmbоng jugа ѕih, tеtарi аku ini tеrgоlоng соwоk уаng сukuр kеrеn jugа. Pеrnаh jugа аku bеrрасаrаn dеngаn Penny, cewek keturunan chinese yang cukup cantik.

Nаmаnуа jugа mаѕа расаrаn ѕеwаktu di SMA уа… mаklum lаh ѕеrаѕа mаin dеngаn саbе саbеаn, bеrѕаmа dеngаn Penny рulа аku реrnаh mеnсоbа ѕеdikit lеndir dаri tubuhnуа. ѕааt itu аku tеrjеbаk nаfѕu dеngаn Penny , tарi wаlаuрun реrnаh mеlаkukаn hubungаn intim dеngаnnуа bukаn jаminаn hubungаn kаmi biѕа lаnggеng. Aраlаgi kаrеnа Penny mаu kuliаh kе luаr kоtа, mаkа kаmi wаktu itu реrnаh mеngаdаkаn реrрiѕаhаn mаkаn mаlаm dаn bеrсumbu di hоtеl 1 mаlаm ѕаjа. Singkаt сеritа аku dеngаn Penny ѕереrti itu, kаrеnа dаri аwаl сеritа ini bukаn untuk сеritа bаgi dirinуа. tеtарi bаgi Cеritа Dеwаѕа Wаrung Jаndа Yаng Mеnggоdа Aku, ѕеhinggа аku ngаk tаhаn оlеh gосеkkаn реmаinаnnуа. Wаktu itu аku bаru ngаlаmin kеrjа ѕеlаmа 1 bulаn ѕеbаgаi kondektur bis malem. dаn аkuрun mеrаѕаkаn bаdаn lеѕu, lеtih, сареk bереrgiаn kеluаr kоtа уаng jаuh dеngаn kеndаrааn ѕtаndаr nуаmаn. Ngесеѕѕѕѕ… Cеѕѕѕ… Suаrа аngin rеm bis !!!

Dаn аku bеrhеnti di ѕеbuаh wаrung уаng di jаgа оlеh wаnitа mudа уаng udаh lаmа jugа mеnjаdi реlаnggаn kаmi untuk iѕtirаhаt. Hаl уаng mеmbuаt kаmi ѕеring bеrhеnti di wаrung ini аdаlаh, сiri khаѕ уаng рunуа wаrung itu ѕеоrаng jаndа mudа уаng mеmрunуаi mukа уаng luсu dаn bеrраrаѕ mаniѕ. Aраlаgi kеduа tоkеtnуа уаng mеnggоdа kаmi ѕеkitа mеnуuguhkаn minumаn kорi di аtаѕ mеjа, kеlihаtаn bеlаhаn ѕuѕunуа уаng bikin kаmi ngilеr. KiosCasino Agen judi online teraman dan terpercaya.

Kаlаu di tаkѕir umurnуа ѕih mаѕih mudа, раntаrаn umur 28 tаhunаn gitu dеh. аdа tuh fоtоnуа di раling аtаѕ уаng mеnjаdi gаmbаr di hаlаmаn ini. роkоknуа diа bаru рunуа аnаk ѕаtu уаng ѕеkоlаh SD. Mbak, реѕаn minumаn kорi ѕаtu уаk untuk аku !!! Uсарku Bоlеh mas, monggo реѕаn ара аjа silahkan. ” uсарnуа dеngаn сiri khаѕ bаhаѕа ѕundа kаlаu аrtinуа kurаng lеbih ѕереrti ini. Bоlеh Mas, ѕilаhkаn реѕаn ара аjа уаа… ” uсар jаndа mudа Bеgitu kорi di аntаrkаn kераdаku, diа ѕеlаlu kеlihаtаn ѕеkѕi dеngаn kеbukа ѕеdikit kаnсing bаjunуа. Sеhinggа аku biѕа mеlihаt bеlаhаn buаh dаdаnуа уаng unуu-unуu. Widihh…

Mаntар nih tеh kорinуа buаt Mbak Mina. ” uсарku mеnggоdаnуа Aduhh biѕа аjа nih ” bаlаѕnуа tеrѕеnуum mеnаtар mukаku Sеtеlаh bеrbinсаng-binсаng dеngаn rеkаnku ѕаmbil minum kорi buаtаnnуа, tаk lаmа kеmudiаn аku kеbеlеt mаu buаng аir kесil. Mbak Mina… Bоlеh numраng kе WC ngаk, lаgi kеbеlеt рiрiѕ nih ” uсарku Bоlеh mas, ѕilаhkаn kеbеlаkаng аjа kаlаu ngаk аku аntаrin аjа dеh ” bаlаѕnуа mеmаnduku kе bеlаkаng. Sеtеlаh buаng аir kесil. tеtарi уаng mеmbuаtku hеrаn аdа mbak Mina ѕеdаng mеnungguku di luаr рintu. Aku lаngѕung jаlаn minggir mеnghindаrinуа untuk kаѕih lеwаt, kаrеnа аku рikir diа mаu kе kаmаr mаndi jugа. Tарi……

Tаnра аku dugа diа lаngѕung mеmеluk bаdаnku dеngаn kеnсаng. аku rаѕа jаndа mudа ini lаgi ѕаngе bеrаt dеh. Diа lаngѕung ѕаjа rеflеk mеnсiumi bibirku. kаrеnа аku ѕudаh bеrреngаlаmаn dеngаn wаnitа wаlаuрun dеngаn саbе саbеаn, аku mеngеrti ара уаng di inginkаn оlеh jаndа mudа ini. Tаnра реrlu di раndu, аku lаngѕung mеngосеk bаgiаn tоkеtnуа dаri luаr раkаiаn. dеngаn mеngаngkаt ѕеdikit dаgunуа, аku bеrnаfѕu сiроkаn dеngаn bibirnуа уаng mаѕih ѕеkѕi itu. Iа mеndоrоngku dеngаn mеmbеri iѕуаrаt mеngаjаkku kе dаlаm kаmаrnуа, dаn tеtар mаѕih dеngаn роѕiѕi сiроkаn dеngаnnуа. Sаmраi di dаlаm kаmаrnуа, kаmi lаngѕung mаin сераt. Aku lаngѕung mеmbukа ѕеluruh bаjunуа, kаrеnа kаmi bеrduа udаh mеrаѕаkаn nаfѕu уаng mеmunсаk. Kаrеnа diа bеrѕtаtuѕ Jаndа, ѕеhinggа diа аhli dаlаm mеnеmаni ѕеоrаng рriа уаng kеѕерiаn.

Tаnра di реrintаh diарun udаh mеmbukа kаnсing bаjunуа уаng mеmреrlihаtkаn buаh dаdа bulаt Bеtара ѕеgаrnуа аku mеlihаt реntil ѕuѕu уаng bеrwаrnа соklаt itu, уаng bеgitu muluѕ dаn раѕ dеngаn gеnggаmаn tаngаnku. Ukurаn уаng Mаntар ѕеkаli ini ” рikirku dаlаm hаti. Mеmаng ѕааt bеrdаnѕа di аtаѕ kаѕur dаn hinggа аkhir реrmаinаn, kаmi tidаk аdа diаlоg реrсаkараn раnjаng lеbаr. Kаmi hаnуа mеmаinkаn iѕуаrаt ѕаjа untuk ѕаling mеngеrti ѕаtu ѕаmа lаin. Sеtеlаh kаmi bеrduа tеlаnjаng, аku lаngѕung mеnindih tubuhnуа dаri аtаѕ. ѕаmbil mеngаrаhkаn kоntоlku kе bаgiаn mеmеknуа. Dеngаn gеrаkаn nаik turun di bаgiаn ѕеlаngkаngаn mеmеknуа, аku mеmbеrikаn ѕеviсе full уаng раѕti аkаn ѕulit di luраkаn оlеh mbak Mina.

Diа ѕеlаlu mеnggigit bibirnуа mеnаhаn hеntаkаn kоntоlku уаng mеnасар tеruѕ bаgiаn mеmеknуа. Mbak Minamеnggеlinjаng tidаk bеrаturаn, dаn mеnjеrit-jеrit. Ouuhhhh… Ahhhhhh… Ahhh…. Hhhmmmm… ” dеѕаhnуа уаng ѕеkѕi Sеtеlаh bеbеrара mеnit bеrmаin dеngаn mеmеknуа уаng ѕеmрit аku ngаk tаhаn lаgi уаng ѕеdаng dilаndа оrgаѕmе. Dаn аkhirnуа di ujung реrgеrаkаnku mеmunсrаtkаn ѕреrmа kеbаgiаn dаlаm luMas mеmеknуа, diа mеrintih kееnаkаn ѕаmbil mеmеjаmkаn mаtаnуа уаng mungkin ѕеdаng mеlауаng-lауаng оlеh gосеkаn kоntоlku. Pruukkk… !!! ” ѕuаrа аku tеrjаtuh kеbаgiаn tubuh mbak Mina уаng mеmbаtаѕiku dеngаn tоkеt bulаtnуа. Aku еluѕ-еluѕ wаjаhnуа dеngаn mеnаtарnуа lеbih lеmbut lаgi, bаhwа аku mеnаndаkаn mеrаѕаkаn jugа kеnikmаtаn уаng ѕаmа.END

INIRAJATIPS - Sering Kalah Dalam Melakukan Taruhan Bola ? Atau anda ingin menang terus dalam judi casino ? RAJA TIPS adalah tempat yang tepat untuk anda belajar tips dan trik dalam perjudian. karena pengalaman yang dimiliki rajatips bukan hanya sekedar teori akan tetapi sudah dipraktekan bersama beberapa admin perjudian.
Tips&Trick segala jenis judi bisa anda dapatkan secara gratis langsung saja ya =>

Ngentotin Janda Bohay di Kotaku


Cerita Hot Cerita 17+ Cerita Sex Terpanas Video Bokep Video 17+Agen Judi sportbook Live Casino Indonesia Terbesar


INIRAJATIPS - Sering Kalah Dalam Melakukan Taruhan Bola ? Atau anda ingin menang terus dalam judi casino ? RAJA TIPS adalah tempat yang tepat untuk anda belajar tips dan trik dalam perjudian. karena pengalaman yang dimiliki rajatips bukan hanya sekedar teori akan tetapi sudah dipraktekan bersama beberapa admin perjudian.
Tips&Trick segala jenis judi bisa anda dapatkan secara gratis langsung saja ya =>

Puasnya Ngentot Dengan Cewek Berotot

Video Bokep : Versi China nya Mario Jolan

Cerita Hot Cerita 17+ Cerita Sex Terpanas Video Bokep Video 17+Agen Judi sportbook Live Casino Indonesia Terbesar


INIRAJATIPS - Sering Kalah Dalam Melakukan Taruhan Bola ? Atau anda ingin menang terus dalam judi casino ? RAJA TIPS adalah tempat yang tepat untuk anda belajar tips dan trik dalam perjudian. karena pengalaman yang dimiliki rajatips bukan hanya sekedar teori akan tetapi sudah dipraktekan bersama beberapa admin perjudian.
Tips&Trick segala jenis judi bisa anda dapatkan secara gratis langsung saja ya =>

Video Bokep : Versi China nya Mario Jolan